KAMPUS HARAPAN
Pagi itu angin berdesir melambaikan
dedaunan. Mentari tampak memancarkan cahayanya ke bumi. Seorang gadis remaja
mengayuhkan sepeda menyusuri jalan raya. Digendongnya tas berwarna biru muda.
Ia siap untuk mengikiti ujian masuk perguruan tinggi tepatnya di Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Jangan
dibuka dahulu lembar soal sebelum bel berbunyi. Diatas meja tidak ada peralatan
lain kecuali alat tulis. Semua tas harap diletakkan didepan.” Pengawas ujian
sedikit memaparkan peraturan-peraturan dalam ujian.
Tteeetttt……. Tteeetttt…….
“Baik.
Silahkan dibuka lembar soal dan dikerjakan pada lembar jawaban masing-masing.
Manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin karena waktu terbatas. Harap diteliti
sebelum dikumpulkan.”
Semua
peserta mengerjakan soal-soal ujian dengan sangat serius. Hanya ada keheningan
dalam ruangan tersebut.
Tteeetttt……. Tteeetttt………
“Baiklah
anak-anak. Waktu habis. Silahkan letakkan lembar jawaban diatas meja. Lembar
soal boleh dibawa pulang.”
Semua
peserta ujian termasuk Rina berusaha menyelesaikan soal yang belum
terselesaikan dengan waktu yang tersisa. Rina hanya dapat menyerahkan semuanya
kepada sang Khaliq agar ia lulus dalam ujian ini.
“Baiklah
anak-anak. Silahkan meninggalkan ruangan (sambil
mengambil lembar jawaban peserta ujian)”.
Perasaan
gundah gulana terus mengikuti Rina. Ia takut jika harapan terakhirnya akan
gagal. Ia juga takut akan mengecewakan keluaga khususnya ayah dan ibunya. Ia
juga tidak ingin apabila berhenti
sekolah dan harus mendaftar ulang di tahun depan. Namun ia tetap menyerahkan
semuanya kepada sang Khaliq karena ia percaya bahwa rencana-Nya lah yang jauh
lebih baik dari sangkaannya.
Saat
pengumuman itu pun tiba. Perasaan gundahnya pun menjadi lebih besar namun
perasaan takutnya jauh lebih besar. Pikirannya selalu mengarah bagaimana jika
ia tidak lulus?
“Mungkin
lebih baik q melihat pengumuman itu besok pagi setelah sholat malam. Jadi
apabila hasilnya tidak sesuai harapan hati ini diberi kesabaran dana ketabahan
oleh sang Khaliq” gumannya.
Kringggg…….
Kringgggg…… Kringggg…….
Jam
alarm Rina bebunyi tepat pada pukul 03.00. ia segera bangun dan mengambil wudlu
lalu melaksanakan sholat malamnya. Setelah selesai, dengan cepat ia mengambil
laptop lalu dibukanya website UIN Sunana Kalijaga. Dan betapa terkejutnya ia
ketika mendapi namanya tercantum sebagai mahasiswa baru di UIN Sunan Kalijaga
dengan prodi Matematika.
“Ibu…
Ayah… trimakasih untuk do’anya. Alhamdulillah Rina lulus dalam ujian kemaren
bu, yah (sambil menangis teharu di dalam
telpon)”.
“Alhamdulillah
nak. Ibu dan ayahmu ikut senang. Sudah sekarang jangan menangis. Lebih baik
persiapan untuk melaksanakan sholat shubuh”.
Terdengar
suara isak tangis ibu dan ayah Rina di dalam telpon.
“Baik
bu. Trimakasih atas do’a dan dukungan dari ibu dan ayah”.
“Iya
nak, sama-sama”.
Saat
yang ditunggu-tunggu oleh Rina adalah ketika masuk kuliah.
“Ahhh….
Benar-benar tak terasa sekarang aku sudah kuliah. Aku harus lebih semangat
dalam belajar dan berusaha menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.” gumannya.
Dengan hati dan perasaan yang sangat
senang ia kayuh sepedanya dengan cepat. Ia benar-benar tidak sabar lagi untuk
mengetahui teman-teman barunya, dosen-dosennya, ruang kelas barunya dan
sebagainya.
“Hai
Laila (sambil mengulurkan tangan)”.
“
Hai juga Rina (membalas uluran tangan
Laila)”.
Sembari menunggu dosen datang Rina dan Laila terus
melakukan obrolan seputar perkenalan mereka.
Perkuliahan terus berjalan selama beberapa semester. Dan
tak terasa sekarang Rina telah menginjak semester 4.
“Rina…..”
sapa Laila.
“Hay….
Laila”.
“Aku
mau tanya deh sama kamu. Kenapa ya UIN Sunan Kalijaga ini sering disebut-sebut
oleh masyarakat luar sebagai kampus yang suka demo? (dengan ekspresi ingin tahu)”.
“Wahhh….
Kalau itu jangan tanyakan sama aku. Lebih baik kamu langsung tanyakan saja hal
itu pada yang bersangkutan. Kalau aku benar-benar kurang faham akan hal itu.”
“Iya
Rin. Kamu benar. Padahalkan masih banyak cara lain untuk mengungkapkan
ketidaksetujuan mereka atas keputusan dari atasan. Misalnya dengan bicara yang
baik-baik terhadap rektornya. Contohnya saja masalah UKT. Ada diantara mereka
yang membakar ban. Bahkan ada juga yang merusak gedung-gedung rektorat dan gedung
admisi. Huuuuu…. Sungguh mengharkan ya”.
“Laila…..
Kamu itu sukanya hanya main protes saja tapi tidak memberikan solusi yang baik
untuk pencegahan demo. Bagaimana kamu itu Laila….”
“Heeeee….
Iya Rin, maaf. Tapi aku memang tidak setuju dengan cara mereka yang seperti itu”.
“Ya
sudah lah. Lebih baik kita keperpus pusat saja dari pada harus membicarakan hal
yang seharusnya tidak kita pikirkan. (sambil
berjalan menyeret tangan Laila)”.
“Hmmm….
baikalah Rin. (menghela nafas)”.
Mereka
pun berjalan menyusuri tiap-tiap fakultas menuju perpustakaan pusat.
“Kamu
mau ikut UKM apa Rin?”
“
Aku belum sempat berpikir sampai situ Laila. Emangnya kamu mau ikut UKM apa?”
“Kalau
aku sih ingin ikut UKM Teater Eska. Bagaimana menurutmu Rin?”
“Boleh
juga itu. Apa alasan kamu ingin ikut teater eska?”
“Pada
teater eska banyak sekali seni-seni dan budaya-budaya Indonesia. Sedangkan zaman
sekarang ini budaya Indonesia seperti hampir punah. Bahkan banyak dari para
generasi mudanya tidak mengenal lagu dan tari daerah pada daerahnya
masing-masing. Mungkin karena mereka lebih mencintai produk luar negeri dari
pada produk dalam negeri. Dan aku ingin membuat salah satu seni dan budaya
Indonesia yang berada di UIN Sunan Kalijaga ini menjadi berkembang sedikit demi
sedikit. Yaaaaa walaupun hanya di UIN”
“Wahhh…..
Boleh juga itu Laila. Ternyata kamu itu perhatian juga ya dengan negara kita
tercinta ini.”
“Haaaaa……
Aku sangat bangga dengan Indonesia. Karena Indonesia itu terdiri dari banyaknya
pulau dan suku budaya namun tetap satu. Coba deh kamu pikirkan Negara Arab itu
adalah negara yang menggunakan satu bahasa yaitu Bahasa Arab namun dia terpisah
menjadi beberapa negara.”
“Waaahhhhh….
Iya kamu benar sekali Laila. Baiklah aku akan mendukung mu dari belakang ya? he”.
“Haaaaaa……
Trimakasih banyak atas dukungannya Rin”.
Percakapan
mereka diperpus terjadi sangat lama. Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan
pukul 15.30.
“Laila….
Ternyata sudah waktunya ashar ya? Ayo kita kemasjid sholat dulu (dengan wajah terkejut)”.
“Iya
baiklah Rin. Tapi aku ingin meminjam buku dulu. Tunggu aku ya Rin sebentar?”.
“Huuufffttt…..
Baiklah Laila (menghela nafas)”.
“Mungkin
yang dikatakan oleh Laila benar. Semakin kedepan, zaman semakin maju dan
membuat peadaban serta budaya Indonesia sedikit demi sedikit terkikis habis.
Padahal budaya itu mencerminkan salah satu ciri-ciri yang dimiliki oleh bangsa
itu sendiri. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika Bangsa Indonesia ini tidak
memiliki ciri khas seperti seni dan budaya. Waaahhh akan jadi apa ya Indonesia
10 tahun kedepan?” gumannya.
“Rin,
ayo pergi”.
“Baiklah”.
Kini
Rina menyadari bahwa ia kurang begitu memperhatikan negara tercintanya ini.
Ternyata keanekaragaman suku dan budaya yang dimiliki Indonesia menjadikannya
salah satu kebanggaan tersendiri bagi masyarakatnya.
“Pastinya
aku juga harus bisa menjaga dan memelihara keberagaman Tanah Air ku ini.
Yaaaa….. seperti halnya Laila (tersenyum
tipis sambil melanjutkan perjalanannya menuju masjid kampus)” gumannya.
CERMINAN PENDIDIKAN DAN BUDAYA DI
INDONESIA
Oleh
: Fahdina Yahadiyana (156100)
Krapyak
14 Mei 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar