Rabu, 18 Mei 2016

CERPEN KU



KAMPUS HARAPAN



            Pagi itu angin berdesir melambaikan dedaunan. Mentari tampak memancarkan cahayanya ke bumi. Seorang gadis remaja mengayuhkan sepeda menyusuri jalan raya. Digendongnya tas berwarna biru muda. Ia siap untuk mengikiti ujian masuk perguruan tinggi tepatnya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Jangan dibuka dahulu lembar soal sebelum bel berbunyi. Diatas meja tidak ada peralatan lain kecuali alat tulis. Semua tas harap diletakkan didepan.” Pengawas ujian sedikit memaparkan peraturan-peraturan dalam ujian.
            Tteeetttt……. Tteeetttt…….
“Baik. Silahkan dibuka lembar soal dan dikerjakan pada lembar jawaban masing-masing. Manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin karena waktu terbatas. Harap diteliti sebelum dikumpulkan.”
Semua peserta mengerjakan soal-soal ujian dengan sangat serius. Hanya ada keheningan dalam ruangan tersebut.
            Tteeetttt……. Tteeetttt………
“Baiklah anak-anak. Waktu habis. Silahkan letakkan lembar jawaban diatas meja. Lembar soal boleh dibawa pulang.”
Semua peserta ujian termasuk Rina berusaha menyelesaikan soal yang belum terselesaikan dengan waktu yang tersisa. Rina hanya dapat menyerahkan semuanya kepada sang Khaliq agar ia lulus dalam ujian ini.
“Baiklah anak-anak. Silahkan meninggalkan ruangan (sambil mengambil lembar jawaban peserta ujian)”.
Perasaan gundah gulana terus mengikuti Rina. Ia takut jika harapan terakhirnya akan gagal. Ia juga takut akan mengecewakan keluaga khususnya ayah dan ibunya. Ia juga tidak ingin apabila  berhenti sekolah dan harus mendaftar ulang di tahun depan. Namun ia tetap menyerahkan semuanya kepada sang Khaliq karena ia percaya bahwa rencana-Nya lah yang jauh lebih baik dari sangkaannya.
Saat pengumuman itu pun tiba. Perasaan gundahnya pun menjadi lebih besar namun perasaan takutnya jauh lebih besar. Pikirannya selalu mengarah bagaimana jika ia tidak lulus?
“Mungkin lebih baik q melihat pengumuman itu besok pagi setelah sholat malam. Jadi apabila hasilnya tidak sesuai harapan hati ini diberi kesabaran dana ketabahan oleh sang Khaliq” gumannya.
Kringggg……. Kringgggg…… Kringggg…….
Jam alarm Rina bebunyi tepat pada pukul 03.00. ia segera bangun dan mengambil wudlu lalu melaksanakan sholat malamnya. Setelah selesai, dengan cepat ia mengambil laptop lalu dibukanya website UIN Sunana Kalijaga. Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapi namanya tercantum sebagai mahasiswa baru di UIN Sunan Kalijaga dengan prodi Matematika.
“Ibu… Ayah… trimakasih untuk do’anya. Alhamdulillah Rina lulus dalam ujian kemaren bu, yah (sambil menangis teharu di dalam telpon)”.
“Alhamdulillah nak. Ibu dan ayahmu ikut senang. Sudah sekarang jangan menangis. Lebih baik persiapan untuk melaksanakan sholat shubuh”.
Terdengar suara isak tangis ibu dan ayah Rina di dalam telpon.
“Baik bu. Trimakasih atas do’a dan dukungan dari ibu dan ayah”.
“Iya nak, sama-sama”.
Saat yang ditunggu-tunggu oleh Rina adalah ketika masuk kuliah.
“Ahhh…. Benar-benar tak terasa sekarang aku sudah kuliah. Aku harus lebih semangat dalam belajar dan berusaha menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.” gumannya.
            Dengan hati dan perasaan yang sangat senang ia kayuh sepedanya dengan cepat. Ia benar-benar tidak sabar lagi untuk mengetahui teman-teman barunya, dosen-dosennya, ruang kelas barunya dan sebagainya.
“Hai Laila (sambil mengulurkan tangan)”.
“ Hai juga Rina (membalas uluran tangan Laila)”.
            Sembari menunggu dosen datang Rina dan Laila terus melakukan obrolan seputar perkenalan mereka.
            Perkuliahan terus berjalan selama beberapa semester. Dan tak terasa sekarang Rina telah menginjak semester 4.
“Rina…..” sapa Laila.
“Hay…. Laila”.
“Aku mau tanya deh sama kamu. Kenapa ya UIN Sunan Kalijaga ini sering disebut-sebut oleh masyarakat luar sebagai kampus yang suka demo? (dengan ekspresi ingin tahu)”.
“Wahhh…. Kalau itu jangan tanyakan sama aku. Lebih baik kamu langsung tanyakan saja hal itu pada yang bersangkutan. Kalau aku benar-benar kurang faham akan hal itu.”
“Iya Rin. Kamu benar. Padahalkan masih banyak cara lain untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka atas keputusan dari atasan. Misalnya dengan bicara yang baik-baik terhadap rektornya. Contohnya saja masalah UKT. Ada diantara mereka yang membakar ban. Bahkan ada juga yang merusak gedung-gedung rektorat dan gedung admisi. Huuuuu…. Sungguh mengharkan ya”.
“Laila….. Kamu itu sukanya hanya main protes saja tapi tidak memberikan solusi yang baik untuk pencegahan demo. Bagaimana kamu itu Laila….”
“Heeeee…. Iya Rin, maaf. Tapi aku memang tidak setuju dengan cara mereka yang seperti itu”.
“Ya sudah lah. Lebih baik kita keperpus pusat saja dari pada harus membicarakan hal yang seharusnya tidak kita pikirkan. (sambil berjalan menyeret tangan Laila)”.
“Hmmm…. baikalah Rin. (menghela nafas)”.
Mereka pun berjalan menyusuri tiap-tiap fakultas menuju perpustakaan pusat.
“Kamu mau ikut UKM apa Rin?”
“ Aku belum sempat berpikir sampai situ Laila. Emangnya kamu mau ikut UKM apa?”
“Kalau aku sih ingin ikut UKM Teater Eska. Bagaimana menurutmu Rin?”
“Boleh juga itu. Apa alasan kamu ingin ikut teater eska?”
“Pada teater eska banyak sekali seni-seni dan budaya-budaya Indonesia. Sedangkan zaman sekarang ini budaya Indonesia seperti hampir punah. Bahkan banyak dari para generasi mudanya tidak mengenal lagu dan tari daerah pada daerahnya masing-masing. Mungkin karena mereka lebih mencintai produk luar negeri dari pada produk dalam negeri. Dan aku ingin membuat salah satu seni dan budaya Indonesia yang berada di UIN Sunan Kalijaga ini menjadi berkembang sedikit demi sedikit. Yaaaaa walaupun hanya di UIN”
“Wahhh….. Boleh juga itu Laila. Ternyata kamu itu perhatian juga ya dengan negara kita tercinta ini.”
“Haaaaa…… Aku sangat bangga dengan Indonesia. Karena Indonesia itu terdiri dari banyaknya pulau dan suku budaya namun tetap satu. Coba deh kamu pikirkan Negara Arab itu adalah negara yang menggunakan satu bahasa yaitu Bahasa Arab namun dia terpisah menjadi beberapa negara.”
“Waaahhhhh…. Iya kamu benar sekali Laila. Baiklah aku akan mendukung mu dari belakang ya? he”.
“Haaaaaa…… Trimakasih banyak atas dukungannya Rin”.
Percakapan mereka diperpus terjadi sangat lama. Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 15.30.
“Laila…. Ternyata sudah waktunya ashar ya? Ayo kita kemasjid sholat dulu (dengan wajah terkejut)”.
“Iya baiklah Rin. Tapi aku ingin meminjam buku dulu. Tunggu aku ya Rin sebentar?”.
“Huuufffttt….. Baiklah Laila (menghela nafas)”.
“Mungkin yang dikatakan oleh Laila benar. Semakin kedepan, zaman semakin maju dan membuat peadaban serta budaya Indonesia sedikit demi sedikit terkikis habis. Padahal budaya itu mencerminkan salah satu ciri-ciri yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika Bangsa Indonesia ini tidak memiliki ciri khas seperti seni dan budaya. Waaahhh akan jadi apa ya Indonesia 10 tahun kedepan?” gumannya.
“Rin, ayo pergi”.
“Baiklah”.
Kini Rina menyadari bahwa ia kurang begitu memperhatikan negara tercintanya ini. Ternyata keanekaragaman suku dan budaya yang dimiliki Indonesia menjadikannya salah satu kebanggaan tersendiri bagi masyarakatnya.
“Pastinya aku juga harus bisa menjaga dan memelihara keberagaman Tanah Air ku ini. Yaaaa….. seperti halnya Laila (tersenyum tipis sambil melanjutkan perjalanannya menuju masjid kampus)” gumannya.





CERMINAN PENDIDIKAN DAN BUDAYA DI INDONESIA
Oleh : Fahdina Yahadiyana (156100)
Krapyak 14 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar